beritadunesia-logo

Gua Selomangleng

Di kawasan wisata Selomangleng yang terletak sekitar 3 kilometer dari pusat Kota Kediri ini selain terdapat wahana wisata juga terdapat sebuah goa yang dianggap sebagai petilasan atau tempat pertapaan Dewi Kilisuci. Konon di sinilah Putri Kediri ini menghabiskan sisa hidupnya untuk bertapa, meminta kepada Yang Kuasa agar rakyat Kediri senantiasa terhindar dari marabahaya. Ia pun juga rela mengorbankan hidupnya untuk tidak menikah demi masyarakat Kota Kediri.Tak heran jika itu selama ini masyarakat Kediri mengkeramatkan Goa Selomangleng sebagai tempat suci, karena itu bagi pasangan yang masih pacaran dipantangkan pergi ke Selomangleng apalagi sampai masuk ke dalam goa, karena dipastikan hubungan yang terbina akan putus di tengah jalan.

Goa Selomangleng sendiri sebenarnya tidaklah terlalu besar. Hanya berupa cekungan di dalam batu yang luasnya sekitar 4 meteran. Goa Selomangleng terbagi menjadi dua ruangan, sementara di dindingnya terdapat beberapa relief. Ruangan pertama seolah-olah seperti sebuah ruang tamu sedang ruang satunya seperti sebuah kamar dimana terdapat sebuah batu besar yang berbentuk kotak persegi panjang yang seolah seperti sebuah paseban atau tempat untuk istrirahat. Sedang di sebelahnya lagi terdapat batu berbentuk layaknya sebuah kursi, dan kemungkinan di sinilah Kilisuci melakukan semedinya.

Tersebutlah pada jaman dahulu di Kediri bertahta seorang raja bernama Djojoamiluhur. Di dalam masa pemerintahannya Kerajaan Kediri mengalami kejayaan, penduduknya hidup layak dan negaranya aman. Dalam melaksanakan pemerintahannya sehari-hari Sang Raja dibantu oleh tiga orang yang dipercaya, masing-masing bernama Tunggulwulung, Butolocoyo dan seorang Panembahan Sakti yang bernama Empu Baradah atau yang terkenal dengan sebutan Mbah Pradah. Sang Raja Djojoamiluhur dikaruniai tiga orang anak, yaitu seorang putri yang sangat cantik bernama Dewi Kilisuci dan dua orang putra yang rupawan bernama Djojoamiseso dan Djojoamiseno.

Pada saat Sang Dewi menginjak dewasa, banyak raja-raja dari daerah lain yang ingin mempersuntingnya. Hal ini membuat sang raja sulit untuk menentukan salah satu dari sekian banyak pelamar Sang Dewi. Maka akhirnya untuk menjaga keamanan, ketentraman serta ketenangan rakyat di Kerajaan Kediri, sang raja mengadakan sayembara perang tanding. Bagi siapa saja yang menang dalam perang tanding natinya, dialah yang akan diterima dan dijadikan suami Dewi Kilisuci. Namun dalam kenyataannya dalam sayembara tersebut dimenangkan oleh seorang raja yang berparas jelek yang berasal dari pesisir timur daerah Banyuwangi, wajahnya hampir menyerupai muka kerbau dan kepalanya bertanduk, sehingga sesuai dengan bentuknya ia mendapat sebutan Djotosuro.

Begitu mengetahui bahwa pemenang sayembara perang tanding adalah Djotosuro yang berparas jelek, Dewi Kilisuci sangat sedih dan tidak mau dipersunting oleh Djotosuro. Untuk menolak lamaran Djotosuro secara langsung Kilisuci tidak berani, maka ia pun menggunakan siasat untuk menolak lamaran Djotosuro. Caranya Kilisuci mempunyai permintaan agar dibuatkan sumur di atas puncak Gunung Kelud yang kedalaman sumurnya diukur dengan ukuran suara. Apabila dalam menggali sumur tersebut Djotosuro dipanggil dari luar sudah tidak mendengar suara orang yang memanggil, maka sang dewi baru mau menerima lamarannya dan mau dijadikan istri. Betapapun beratnya permintaan Kilisuci tersebut, Djotosuro tetap menyanggupi demi dapatnya menikah dengan sang pujaan hati.

Keberangkatan Djotosuro ke puncak Gunung Kelud diantar oleh para prajurit Kediri yang dipimpin oleh Tunggulwulung dan Butolocoyo. Pada saat Djotosuro menggali sumur, para prajurit diperintahkan oleh Tunggulwulung dan Butolocoyo untuk mengumpulkan batu-batu. Ternyata penggalian sumur tersebut berjalan sangat cepat, dan pada waktu Djotosuro dipanggil oleh Butolocoyo dan Tunggulwulung beberapakali sudah tidak menjawab, maka kepada para prajurit diperintahkan melempar batu yang telah dikumpulkan ke dalam sumur. Akhirnya Djotosuro mati di dalam sumur yang dibuatnya sendiri di atas puncak Gunung Kelud. Hingga kini sumur tersebut merupakan kawah Gunung Kelud. Setelah Djotosuro mati di dalam sumur yang dibuatnya sendiri di puncak Gunung Kelud, Tunggulwulung dan Butolocoyo mendengar suara aneh yang tidak diketahui dari mana asalnya,”Hai Raja Kediri Dojoamiluhur, prajurit serta semua rakyat kerajaan Kediri, sekarang aku mengakui kekalahanku dengan siasatmu yang licik. Tetapi tunggulah pembalasanku di kemudian hari. Setiap waktu waktu tertentu Kediri akan saya genangi air, akan saya rusak dan akan saya jadikan sungai. Tulungagung akan saya jadikan kedung dan Blitar akan saya jadikan latar (halaman).”
Demikian suara yang didengar para prajurit-prajurit tersebut dan mereka beranggapan bahwa suara tersebut berasal dari sukma Djotosuro yang mati dalam kemurkaan.

Tunggulwulung dan Butolocoyo dengan diiringi para prajurit setelah mendengar suara tadi akhirnya pulang ke Kediri dan melaporkan semua peristiwa yang mereka alami mulai dari awal hingga terdengarnya suara ancaman yang berasal dari Djotosuro. Setelah mendengar laporan Tunggulwulung dan Butolocoyo Sang Raja merasa sangat sedih, sebab hal itu akan berakibat merugikan rakyatnya. Akhirnya sang raja Djojoamiluhur jatuh sakit dan tiada lama meninggal dunia.

Sebagai pengganti kedudukannya ditunjuk Dewi Kilisuci karena ialah putra yang pertama. Pada awalnya Kilisuci menolak untuk menggantikan ayahandanya, namun karena adik-adiknya masih belum cukup umur untuk memimpin kerajaan, akhirnya Kilisuci mau menerima titah menggantikan ayahandanya hingga kedua adiknya dewasa. Selama menjadi raja Kediri Kilisuci dikenal sebagai Ratu Kedi.

Pada waktu Djojoamiseno dan Djojoamiseso menginjak dewasa dan dipandang oleh Sang Ratu sudah pada waktunya untuk menggantikan dirinya, maka diputuskan bahwa kerajaan akan diserahkan kepada kedua adiknya, sementara ia sendiri akan bertapa untuk menanggulangi ancaman Djotosuro.

Sebelum bertapa, Kilisuci dengan bantuan Empu Baradah membagi kerajaan menjadi dua untuk adiknya. Air dari kendi empu Baradah akhirnya menjadi sungai Brantas yang menjadi pemisah kerajan Panjalu Doho dan Jenggala. Setelah memisahkan kerajaan Kediri, Empu Baradah sendiri mengundurkan dari jabatan pendeta kerajaan dan memilih menjadi pertapa dan menetap di daerah Lodoyo hingga sekarang tempat tersebut terkenal dengan sebutan Mbah Pradah.

Sementara itu Kilisuci juga menugaskan pada Tungguluwulung untuk menjaga sumur di Gunung Kelud untuk menentukan arah dan jalannya air lahar, jika sewaktu-waktu Djotosuro meledakkan kawahnya. Sedang Butolocoyo ditugaskan menjaga air lahar Gunung Kelud agar tidak merusak rakyat Kediri, serta ditugaskan untuk menjaga Kilisuci dalam pertapaannya.

Setelah membagi-bagi tugas akhirnya Kilisuci mengundurkan diri dari tahta kerajaan dan mulai bertapa. Ia pun memilih bertapa di kaki Gunung Klotok dimana terdapat sebuah cekungan di batu yang menjorok keluar. Di dalam goa batu atau Selo inilah Kilisuci bertapa hingga akhir hayatnya. Hingga kini tempat tersebut dikenal sebagai Selomangleng.
    

Begitu mengetahui bahwa pemenang sayembara perang tanding adalah Djotosuro yang berparas jelek, Dewi Kilisuci sangat sedih dan tidak mau dipersunting oleh Djotosuro. Untuk menolak lamaran Djotosuro secara langsung Kilisuci tidak berani, maka ia pun menggunakan siasat untuk menolak lamaran Djotosuro. Caranya Kilisuci mempunyai permintaan agar dibuatkan sumur di atas puncak Gunung Kelud yang kedalaman sumurnya diukur dengan ukuran suara. Apabila dalam menggali sumur tersebut Djotosuro dipanggil dari luar sudah tidak mendengar suara orang yang memanggil, maka sang dewi baru mau menerima lamarannya dan mau dijadikan istri. Betapapun beratnya permintaan Kilisuci tersebut, Djotosuro tetap menyanggupi demi dapatnya menikah dengan sang pujaan hati.

Keberangkatan Djotosuro ke puncak Gunung Kelud diantar oleh para prajurit Kediri yang dipimpin oleh Tunggulwulung dan Butolocoyo. Pada saat Djotosuro menggali sumur, para prajurit diperintahkan oleh Tunggulwulung dan Butolocoyo untuk mengumpulkan batu-batu. Ternyata penggalian sumur tersebut berjalan sangat cepat, dan pada waktu Djotosuro dipanggil oleh Butolocoyo dan Tunggulwulung beberapakali sudah tidak menjawab, maka kepada para prajurit diperintahkan melempar batu yang telah dikumpulkan ke dalam sumur. Akhirnya Djotosuro mati di dalam sumur yang dibuatnya sendiri di atas puncak Gunung Kelud. Hingga kini sumur tersebut merupakan kawah Gunung Kelud. Setelah Djotosuro mati di dalam sumur yang dibuatnya sendiri di puncak Gunung Kelud, Tunggulwulung dan Butolocoyo mendengar suara aneh yang tidak diketahui dari mana asalnya,”Hai Raja Kediri Dojoamiluhur, prajurit serta semua rakyat kerajaan Kediri, sekarang aku mengakui kekalahanku dengan siasatmu yang licik. Tetapi tunggulah pembalasanku di kemudian hari. Setiap waktu waktu tertentu Kediri akan saya genangi air, akan saya rusak dan akan saya jadikan sungai. Tulungagung akan saya jadikan kedung dan Blitar akan saya jadikan latar (halaman).”
Demikian suara yang didengar para prajurit-prajurit tersebut dan mereka beranggapan bahwa suara tersebut berasal dari sukma Djotosuro yang mati dalam kemurkaan.

Tunggulwulung dan Butolocoyo dengan diiringi para prajurit setelah mendengar suara tadi akhirnya pulang ke Kediri dan melaporkan semua peristiwa yang mereka alami mulai dari awal hingga terdengarnya suara ancaman yang berasal dari Djotosuro. Setelah mendengar laporan Tunggulwulung dan Butolocoyo Sang Raja merasa sangat sedih, sebab hal itu akan berakibat merugikan rakyatnya. Akhirnya sang raja Djojoamiluhur jatuh sakit dan tiada lama meninggal dunia.

Sebagai pengganti kedudukannya ditunjuk Dewi Kilisuci karena ialah putra yang pertama. Pada awalnya Kilisuci menolak untuk menggantikan ayahandanya, namun karena adik-adiknya masih belum cukup umur untuk memimpin kerajaan, akhirnya Kilisuci mau menerima titah menggantikan ayahandanya hingga kedua adiknya dewasa. Selama menjadi raja Kediri Kilisuci dikenal sebagai Ratu Kedi.

Pada waktu Djojoamiseno dan Djojoamiseso menginjak dewasa dan dipandang oleh Sang Ratu sudah pada waktunya untuk menggantikan dirinya, maka diputuskan bahwa kerajaan akan diserahkan kepada kedua adiknya, sementara ia sendiri akan bertapa untuk menanggulangi ancaman Djotosuro.

Sebelum bertapa, Kilisuci dengan bantuan Empu Baradah membagi kerajaan menjadi dua untuk adiknya. Air dari kendi empu Baradah akhirnya menjadi sungai Brantas yang menjadi pemisah kerajan Panjalu Doho dan Jenggala. Setelah memisahkan kerajaan Kediri, Empu Baradah sendiri mengundurkan dari jabatan pendeta kerajaan dan memilih menjadi pertapa dan menetap di daerah Lodoyo hingga sekarang tempat tersebut terkenal dengan sebutan Mbah Pradah.

Sementara itu Kilisuci juga menugaskan pada Tungguluwulung untuk menjaga sumur di Gunung Kelud untuk menentukan arah dan jalannya air lahar, jika sewaktu-waktu Djotosuro meledakkan kawahnya. Sedang Butolocoyo ditugaskan menjaga air lahar Gunung Kelud agar tidak merusak rakyat Kediri, serta ditugaskan untuk menjaga Kilisuci dalam pertapaannya.

Setelah membagi-bagi tugas akhirnya Kilisuci mengundurkan diri dari tahta kerajaan dan mulai bertapa. Ia pun memilih bertapa di kaki Gunung Klotok dimana terdapat sebuah cekungan di batu yang menjorok keluar. Di dalam goa batu atau Selo inilah Kilisuci bertapa hingga akhir hayatnya. Hingga kini tempat tersebut dikenal sebagai Selomangleng.

http://www.kotakediri.go.id/